Halte dan Kamu [4]

screenshot_2018-01-17-10-32-40-744_com1414715499.jpg
Taken by Bimas

Halte dan Kamu [4]

Kadang, ketika kamu jatuh cinta tempat terbiasa sekalipun akan punya kenangan dan makna tersendiri.

Hai?

Kali ini aku akan membawamu berkelana tentang suatu tempat dimana semuanya berawal –aku pikir begitu. Tempat itu terlalu biasa untuk dikatakan spesial, namun semua kenangan tentangmu berawal dari sana.

Ingat hari kedua kita bertemu? Aku dan kamu bahkan tidak banyak berdialog. Kamu ke sana, aku ke sini. Beberapa kali kamu terus mencoba berbicara denganku, tapi memang aku sengaja menghindar. Kita terlalu dini untuk dikatakan punya hubungan dan aku tidak ingin gossip-gosip aneh tentangku terdengung secepat itu di lingkungan yang tergolongnya masih baru.

Namun, dari sekian banyak hal, yang membuatku terenyuh adalah ketika aku akan pulang –entah aku lupa memang sengaja atau tidak, tapi kita bertemu. Lalu bersama-sama menunggu di tempat yang sama yaitu halte.

Memang berbeda tujuan, aku menunggu Trans Jakarta dan kamu menunggu ojek online –ah… tidak, kamu tidak memesan sampai aku naik, itu katamu. Lalu kita berbicara banyak hal bukan? Dari aku yang faktanya tidak pernah keluar pulau Jawa, aku yang menagih oleh-oleh karena kamu ternyata tidak membawanya, lalu kamu yang tertawa akan diriku yang katamu menyedihkan ini. Tapi tak apa, aku suka ketika orang lain bahagia karena aku.

Lalu, aku tersadar jika salah satu teman baru kita ada di situ –inisialnya U dengan 5 huruf. Kami berbicara banyak –well, aku yang mendominasi. Mencoba membuat bercerita konyol tentang apa saja yang terlintas dari otakku, sampai akhirnya Trans Jakarta jurusanku datang.

Aku berpesan kepadamu untuk menjaga teman baru kita –Si U karena dia terlihat pendiam dan sangat lugu. Aku juga melambaikan tangan dan seri-seri.

Lalu, dari situlah kegiatan menunggu itu dimulai.

Aku tidak pernah meminta. Bahkan awal-awalnya aku bingung dengan sikapmu seperti itu. Aku tidak pernah diistimewakan oleh seseorang lelaki selain keluargaku. Tapi, kamu bersikap seperti itu –seolah menganggapku spesial.

Ada satu momen yang masih teringat di kepalaku.

Waktu itu cukup malam, mungkin selepas Magrib. Kamu bertanya kepadaku dimana aku, dan aku menjawabnya aku sedang menunggu Trans Jakarta. Aku memang sedikit berharap kamu datang karena sebelumnya ketika kamu menanyakan seperti itu kamu akan datang. Lalu, kamu bilang kamu sedang bersama teman-teman yang lain, dan aku memudarkan harapanku. Tak lama kemudian Trans Jakarta datang, dan aku naik.

Tapi, kamu mengirimku pesan, jika kamu akan datang, lalu selanjutkan kamu bilang hati-hati dan aku seperti orang idiot yang mencoba melihatmu keluar –meski akhirnya tidak menemukan. Kamu bilang kamu datang dan melihatku naik, dan kamu tahu apa yang aku pikirkan? Aku berfikir kamu gila. Tentu saja gila! Lelaki mana yang mengkhawatirkan temannya seperti itu?

Lalu aku terbiasa dengan hadirmu yang menemaniku seperti itu. Ikut menunggu meski kadang kamu belum sholat. Berbicara apapun itu, saling mengejek, sampai semua itu akhirnya seperti rutinitas wajib, yang kadang, jika kamu tidak bisa ikut menemaniku menunggu akan membuat moodku down.

Aku tidak menyukai rasa aku membutuhkanmu terlalu dalam seperti itu, karena yang aku takutkan adalah semuanya akan berhenti di saat aku sudah begitu bergantung. Semua tentangmu masih terlihat semu di mataku maka aku tidak menyukainya.

Aku kadang membenci aku yang terlalu berharap padamu dan pada masa itu aku tidak bisa mengerti apapun tentang hatimu. Aku terlalu takut, sampai rasanya tak ingin kamu lepas dari pandanganku.

-Rasa sebelum pengakuan

Mee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s