Semesta, Kamu, dan Aku (Special 1)

Hai?

Bagaimana kamu kemarin? Aku percaya kamu bisa dan baik-baik saja.

Ini memang bukan lanjutan dari tulisan-tulisan kemarin. Tapi, aku ingin berbagi kata yang tidak bisa terucap sekarang. Ijinkan aku berbagi dan melukiskan rasa di hati sebelum kembali menghadap ke depan dan berani melangkah ke depan.

Kenapa kuberi judul Semesta? Aku akan berbicara tentang kodrat dan makna sebenarnya dari sudut pandangku. Sebelumnya aku minta maaf karena fakta ini mungkin akan membuatmu sakit.

Dulu, ketika semunya masih awal ketika aku dan kamu tahu akan rasa yang kita alami, aku memang sudah berfikir tentang rentang jarak seperti ini. Karena aku terlalu takut mengotori kemurniaan cinta itu sebenarnya.

Semesta adalah tentang waktu yang berjalan, tentang kodrat bagaimana indahnya aturan yang telah ditetapkan Sang Illahi, tentang semua dukungan bagaimana orang-orang menilai tali merah yang mulai bertaut diantara kita, tentang semua semesta yang mendukung akan rasa, tentang banyak faktor yang membuatku akan linglung jika tidak segera membuat pilihan.

Semesta itu adalah tempat dimana kita hidup. Dimana kita meluruskan niat, mau kemana kita? Apa tujuan kita? Dan tentu saja, aku akan menjadi orang jahat jika aku membuat semuanya melenceng, jika aku tidak bisa menjadikan semesta ini mendukung rasa yang aku dan kamu miliki.

Rasa ini hadir karena Semesta mendukung. Rasa ini akan memberi jarak karena takut Semesta marah. Dan (Aku dan kamu juga berharap) semesta akan menyatukan kembali rasa ini dengan restunya yang tulus tanpa harus menghilangkan kemurnian rasa yang kita miliki.

Lalu ini juga tentang Kamu. Karena aku tidak jatuh cinta sepihak. Karena kamu juga memiliki rasa. Dan karena mungkin saja, pilihan ini akan menyakitkanmu.

Aku terus berfikir apakah ini akan menyakitkanmu atau tidak. Apakah kamu akan baik-baik saja setelah ini atau seperti apa kamu setelah ini? Bagaimana kamu ke depannya? Apakah kamu akan terluka? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mempertanyakan keadaan kamu.

Namun, sejujurnya, jawabannya hanya satu, Aku hanya perlu percaya kamu bisa dan akan selalu baik-baik saja.

Lalu, ketika kamu pun kuat menghadapi badai sebesar apa, aku akan baik-baik saja.

Dan tentu saja semua itu berhubungan denganku. Jika kamu bertanya apa aku baik-baik saja? Akan kujawab dengan sepenuh hati, InsyaAllah, Allah bersamaku, aku akan baik-baik saja.

Jika kamu bertanya apakah ini berat untukku? Sungguh juga aku tak bisa menapik beban itu.

Aku tak pernah merasakan rindu padamu sebelumnya, namun ketika bahkan niat ini belum tersampaikan rasa itu memuncah, seolah ada bagian dalam hidupku yang akan hilang.

Tapi, sahabatku pernah berkata seperti ini, ‘Jika kamu melepas apa yang berharga untukmu karena Allah, niscaya Allah akan gantikan itu dengan yang lebih baik.’

Aku tidak melepasmu. Aku melepas rasa yang terlanjur terbuka ini untuk nanti digantikan dengan rasa yang lebih baik.

Lalu, untuk semua hal yang telah lalu, aku berterima kasih. Aku tak akan meminta maaf karena tak ada salah dalam hubungan itu, hanya saja waktu yang belum tepat.

-Mee

Saturday, Jan 6th 2018

Seharusnya ini lebih duluan dipos dibanding ‘Seperti Baru Kemarin (Special 2)’, tapi belum selesai juga karena pikirannya gak fokus XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s